Review Film Minggu Pagi di Victoria Park - KAMPUNG RUMASA
News Update
Loading...

Wednesday, May 25, 2011

Review Film Minggu Pagi di Victoria Park

Setelah anda melihat Trailler Movie Minggu Pagi di Victoria Park, mungkin anda juga penasaran dengan apa yang telah saya tuliskan sebelumnya tentang kisah Mayang (Lola Amaria) yang menjadi TKI. Jika anda hanya membaca beberapa kalimat saja dalam naskah pendek pada movie tersebut, disini akan saya sajikan kisah yang panjang dari perjalanan Mayang dan adiknya Sekar yang menjadi TKI di Hongkong. Oke, Silakan duduk manis dan Selamat membaca review film ini.

Review Film Minggu Pagi di Victoria Park
Oleh sang ayah, Mayang didaftarkan untuk menjadi TKW di Hong Kong. Tujuannya bukan untuk mencari uang, melainkan untuk mencari sang adik, Sekar, yang semenjak lama telah tidak memberikan kabar ke kampung halamannya. Mayang sendiri tidak terlalu antusias untuk menemukan Sekar. Telah semenjak lama sang ayah memperlakukan mereka dengan berbeda, dan menganggap Sekar adalah puteri yang lebih superior dari Mayang.

Untungnya, perantauan Mayang di Hong Kong tidak berjalan begitu sulit. Tidak seperti yang banyak diberitakan, Mayang mendapatkan sebuah keluarga yang baik sebagai majikannya. Ia juga mulai dapat membaur dengan teman-teman sesama Tenaga Kerja Wanita yang bekerja di daerah tersebut. Secara perlahan, Mayang mulai mengumpulkan informasi untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan adiknya itu.

Diantara dangkalnya ide cerita yang diangkat para sineas perfilman Indonesia, adalah sangat menyenangkan untuk melihat sebuah film secemerlang Minggu Pagi di Victoria Park. Film ini sebenarnya memiliki dasar cerita yang sederhana. Namun dengan pengembangan yang tepat, cerita yang sederhana tersebut mampu diolah menjadi sebuah sajian yang berisi dan, setidaknya, mampu memberikan sedikit gambaran yang lebih besar terhadap kehidupan para TKW di tempat perantauannya.

Film dengan masa penggarapan selama lebih dua tahun sudah seharusnya tampil lebih rapi dan teliti dalam menyajikan presentasi naskah ceritanya. Selaku sang sutradara, Lola Amaria memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menerjemahkan naskah yang telah ditulis oleh Titien Wattimena, dan kemudian menyusunnya secara hati-hati untuk kemudian menghasilkan jalinan jalan cerita yang walau memiliki banyak pesan “berat”, namun tetap terkesan ringan dan dapat diserap dengan mudah. Ditambah dengan beberapa adegan kilas balik untuk mendukung unsur dramatis film ini, Lola berhasil membuat Minggu Pagi di Victoria Park menjadi sebuah tayangan drama yang sangat efektif.

Keefektifan drama yang terkandung di dalam jalan cerita menjadi lebih bermakna lagi ketika jajaran pemeran yang mengisi departemen akting film ini terdiri dari para aktris dan aktor yang mampu memerankan karakternya dengan sangat baik. Menduduki posisi sutradara, Lola Amaria juga tidak mengurangi totalitasnya dalam berakting. Walau kebanyakan tampil dalam ekspresi datar, yang merupakan ciri dari karakternya dan bukan karena kegagalan Lola dalam memerankannya, Lola mampu menghidupkan tokoh Mayang menjadi tokoh protagonis utama di film ini. Lola di film ini didampingi oleh aktris Titi Sjuman, yang baru saja menanjak namanya semenjak tampil dalam film Mereka Bilang, Aku Monyet. Dan lewat penampilannya sebagai Sekar, Titi kembali menampilkan kelebihannya dalam mengaduk-aduk perasaan para penontonnya lewat penjiwaannya akan karakter Sekar yang cenderung depresif itu. Jajaran pendukung lain, walau tak tampil menonjol, juga mampu menopang penampilan dua karakter utamanya dan membuat Minggu Pagi di Victoria Park semakin mengesankan.

Titi Sjuman tidak hanya berperan sebagai Sekar di film ini. Ia, bersama suaminya, Aksan Sjuman, juga bertanggung jawab atas penyusunan iringan music score yang terdengar di sepanjang film ini. Dan lewat iringan musik yang mereka hasilkan ini, sebagian dari emosi yang ingin disampaikan film ini kepada para penontonnya berhasil tersalurkan dengan baik. Bahkan, harus diakui, begitu kuatnya pengaruh tata musik yang ada di film ini, beberapa adegan justru dapat tampil dengan tampilan emosi yang lebih menyentuh akibat eksistensi tata musik yang disediakan. Melengkapi kualitas tata produksi film ini, penonton juga akan disajikan tata sinematografi yang cukup menarik mengenai lingkungan sekitar Hong Kong yang cukup memberikan tambahan mengenai gambaran mengenai bagaimana kehidupan para TKW kita di negara orang.
Anda Jangan Lupa Untuk Mendukung Saya di Compfest UI dengan memberikan komentar pada tulisan yang saya sertakan ke acara tersebut dengan judul "Inovasi Pendidikan Karakter Untuk Tunas Bangsa"

Share with your friends

Add your opinion
Disqus comments
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done