. Menjajaki Rumah Dunia Milik Gol A Gong - KAMPUNG RUMASA

Menjajaki Rumah Dunia Milik Gol A Gong

Sekali lagi mungkin akan terus saya tulis tentang Gol A Gong dari berbagai sudut pandang, namun cukuplah tulisan ini menjadi perantara antara sya dengan beliau. Dalam kesempatan yang langka saya akan mengajak anda untuk menjajaki rumah dunia milik Gol A Gong.

Bersama istrinya, Asih Purwaningtyas Hasanah atau lebih akrab disapa Tyas Tatanka, dan dibantu beberapa relawan lainnya, ia kelola PRD dengan menawarkan berbagai kegiatan “wisata”. Kemasan wisata pada setiap kegiatan PRD dimaksudkan agar kegiatan baca-tulis itu memikat anak-anak dan remaja. Ada wisata baca dan dongeng, wisata gambar, wisata tulis, dan ada juga wisata lakon. Hal itu dipilih agar kesan serius sebuah perpustakaan berganti dengan kesan ramah dan kuat aroma bermainnya. Awalnya, perpustakaan itu hanya berupa koleksi buku yang ditumpuk pada satu rak sepatu di sebuah kebun terbuka.

Perlahan-lahan, bermula dari dibangunnya pendopo (selesai bulan Juli 2002), berdirilah satu per satu bangunan hingga kini sudah berjumlah empat lokal. Koleksi bukunya pun kini sudah mencapai 3.000-an judul. Mengingat kegiatannya belakangan ini merambah sastra, teater, rupa, dan jurnalistik, maka pada bulan Desember 2003 berganti nama menjadi Rumah Dunia. Tanggal 14 Februari 2004, Rumah Dunia diresmikan oleh Hj Cucu Munandar, istri Gubernur Banten, Djoko Munandar. Melalui Rumah Dunia, Gola Gong juga melakukan semacam gerakan dekonstruksi kultural dengan memberi makna baru pada kosakata lokal yang mengandung makna pejoratif. Salah satu contohnya adalah kata “jawara”. Dengan menggunakan kata tersebut sebagai nama toko buku, Kedai Buku Jawara, ia mencoba agar stigma “jawara” yang sering identik dengan kekerasan dan pemerasan berubah makna menjadi “gudang ilmu”. “Saya ingin suatu ketika jika orang mencari kata ’jawara’ melalui Google (mesin pencari di internet), ia akan menemukan kata itu dengan arti ’gudangnya ilmu’. Kami ingin karakter wong Banten yang keras diperkaya dengan wawasan dan smart,” kata Gola Gong.

Contoh lain dari proses dekonstruksi kultural itu adalah penamaan kegiatan dengan istilah seperti “gonjlengan wacana”, “tawuran seni”, dan lain-lain. Dalam konteks itu, kata “gonjlengan” yang semula hanya berarti kumpul-kumpul sambil makan ayam berubah menjadi diskusi seni, budaya, dan pendidikan yang hangat dibicarakan di media massa. Kata “tawuran” pun berubah makna menjadi pertemuan dua sekolah atau perguruan tinggi yang menampilkan pertunjukan sastra dan teater. Dari mana dana untuk semua itu? Gola Gong menjawab bahwa dana berasal dari sumbangan para donatur dan kawan-kawannya. Dia menyisihkan 2,5% dari penghasilannya sebagai tim kreatif stasiun televisi RCTI dan hasil penjualan hak cipta dua novelnya, yaitu Balada si Roy dan Padamu Aku Bersimpuh, yang dijadikan sinetron. “Kunci semua ini adalah ikhlas dan semangat berbagi dengan sesama. Langkah itu kami mulai dari lingkungan masyarakat di sekitar rumah, bukan dari menyodorkan proposal minta dana,” katanya.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita dan Rumah Dunia bisa terus eksis mengangkat nama Banten di Indonesia bahkan Dunia.
logo
Kenalan Langsung Dengan Saya di Sosial Media.
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Instagram
  • Subscribe Our Newsletter

    Related Posts

    There is no other posts in this category.
    Buka Komentar
    Tutup Komentar

    0 Response to "Menjajaki Rumah Dunia Milik Gol A Gong"

    Post a Comment

    Iklan Atas Artikel

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2

    Iklan Bawah Artikel